Jun
15
Filed Under (Our home) by dmertani on 15-06-2005
Akhtar and me think that Japan is the most friendly and welcome us to live in so far. Our life here has been a good quality one (nggak banyak spend waktu di kemacetan, nggak spend uang untuk bribe which is against our principal, safe, good career, business, education for children, etc) jadi, kita memberanikan diri untuk membeli sebuah unit apartemen disini bulan lalu. 40% bayar cash, 60% loan bank (Tokyo Mitsubishi Bank). This is the biggest buy in our life.
Small for non Japanese eyes, but huge for Japanese standard: 82m square lving in plus 42m square terrace, lawn/garden (we choose the 1st floor so we can get the lawn for children to play). 2 bedrooms,  a living dining room, a kitchen, a dresser,  one free room (that we use as working room /library), all with a lot of love inside. The building opened middle last year, has 341 apt unit. It is a complex of three 16 floor buildings. It has all the facility: gym, kids room, mini golf, sauna, barbeque corner, vending mch corner, garden roof, etc. and all the high tech facility as the home gadget.
The marketing web has been shut down as the units are sold out, but the flash play remain there that you can see  http://www.on-the-hill.jp   later, when I am ready with the pictures, i will share them with you.
By sharing this, we would extend our invitation to you to visit your new place to stay in Japan. You, our dearest friends, our roof and wall is yours too.
Mohon doa restu supaya gue dan keluarga bisa hidup aman nyaman membesarkan anak2 disini.
Jun
15
Filed Under (Travel) by dmertani on 15-06-2005
Hampir satu bulan penuh di April yang lalu gue sekali lagi harus berpisah dgn keluarga untuk tugas demi sesuap sushi ke Central Europe. Kali ini ke Zurich, Vienna dan Bratislava. Zurich dan Vienna mungkin teman2 pernah dengar cerita sebelumnya (relatif lebih visitable city kan), gue mau share ttg kota Bratislava yang kalau nggak ada penting banget biasanya kemungkinan kesanannya kecil (dapeting visa-nya aja juga susah bener, mungkin karena gue kesananya sekitar waktu Bush and Putin meeting di Bratislava). Gue kesana 2 minggu untuk jalanin project kantor yang gue jadi project ownernya. IBM decided buka ww operational center di Bratislava karena sejak tahun lalu Slovakia masuk Europe Union, kualitas labor mereka standard EU, tapi biaya operasional disana (land, labor, living) adalah 30% dari rata2 negara Eropa, comparable dgn negara Asia. …(man, we got more country to compete!) BTW, selama gue kesana, Akhtar, Raisa and Ken ke Islamabad,Pakistan main kerumah kakek nenek. First time for my kids. Yang menariknya, nyokap bokap gue juga ikutan mereka datang dari Indonesia langsung, jadi mereka kumpul2 di sana, sementara gue musti kerja keras penuh stress, deadline dan politik di negara entah berantah….hehe…but that another story. I am happy that the kids at least got something else to enjoy and forgot that mommy is not around.
Bratislava, ibu kota negara Slovakia. Slovakia dulu adalah bagian dari negara komunis Chekoslovakia hingga berpisah di 1993.
Nggak ada direct flight dari Tokyo(and most main city of the world, except nearby European) ke Bratislava. So gue flew ke Vienna, Austria. Dari Vienna, gue naik mobil boss gue, drove 1h20min ke Bratislava. Dari Austria, negara modern, masuk ke Slovakia, negara post cold war/communist perbedaannya menyolok banget. Alamnya sih bagus banget. Bassically kota ini terletak di dataran luas dikelilingi oleh pegunungan alpine. So from distance background selalu gunung2 salju. Tapi angin gunung adalah menu harian disana. Buat orang2 sana, it is understood kalau diluar rambut pasti berantakan.
Banyak peternakan/perkebunan dengan kelinci dan rusa liar bersliweran. Karena gue disana pas early spring, everything were lush green. yang terkenal produk perkebunan disana adalah asparagus. Gue berhenti beberapa kali pingin liat tanaman asparagus yang gendut2.
Yang sebelnya setelah proses buat visa yang babalieut itu, pas lewat check point di border, eh passport gue nggak diperiksa, visa nggak pakai diliat. Main cepet2 di stamp aja. Sialan…deh.
Bratislava kota tua. Basically ada 3 type bangunan disana: bangunan tua (old down town) ratusan tahun. Seperti istana, kastil2 gitu, tapi dipakai jadi kantor, hotel, etc sekarang. Kemudian bangunan jaman komunis, rata2 dibangun th 1950-60 gitu. Bentuknya sama semua, seperti asrama/flat, di cat warna sama. Isinya flat2 permahan. Dan bangunan baru yang rata2 masih dalam proses pembangunan, ini karena mereka dapat kecuran dana dari EU tahun lalu, segeralah membangun gedung2 pencakar langit, jalan raya, mal, dll.
Yang menarik, gue nggak liat orang gendut di Bratislava (kecuali di cermin). Semua langsing2, malah cenderung kurus. Konon, karena post communism, kebiaasaan jaman komunis masih kuat, seperti makan semua sama rata, dijatah, etc. Tapi tentu saja Kapten Sanders dan Ronald McD tidak mau ketinggalan. Kentucky dan Mac Donald bermunculan di sudut2 kota dan mal2 baru. Dan sekrang masih jadi tempat nongkrong yang ‘cool’ buat para pemuda disana. Seperti di Indo 10 th yg lalu jaman McD baru2 buka.
Ngomong soal makanan, gue nggak suka deh makanan disana. Rata2,porsi besar dan semua creamy (milk base). Sayur2 susah (para asparagus itu buat diekspor) dan banyak menu dingin (cheese slice, cold pasta). Di Eropa makanan panas is not a must in the meal. Biasanya orang2 makan hot meal hanya malam hari. Nggak ngerti juga kenapa padahal kan disana dingin. Di iNdonesia yg panas saja kita makan panas 3 kali sehari. Mungkin karena pengaruh komunisme juga ya kan harga gas mahal, semua sama rata makan dingin.
Gue stayed di the best hotel in the town (Radisson Carlton) hotel sama dgn yg ditinggali Bush and Putin. Bukannya gaya, tapi memang disana nggak ada kelas menegah. jadi adanya cuma 2 hotel fancy 5 star dan selebihnya losmen2. So kantor gue got not much choice… Harga hotelnya jauh lebih mahal dari hotel di Jepang (sekitar 250 euro/night)! Padahal nggak fancy2 amat menurut gue. Harga barang2 disana murah2. Serasa Bandung deh. Mata uang Slovak Crown.
Populasi Bratislava sekitar 1 juta orang (FYI, Jakarta sekitar 10-12 Juta, Bandung hampiur 3 Juta, Tokyo 25-30 juta/night-day) so kota ini kecil. Bagusnya, gue nggak liat sampah dimana2. It is indeed a very clean city. Transportasi disana adalah tram (yg desek2an) dan taxi (yang musti nawar or argonya bisa kuda). So lucky me pakai rent a car. Oh ya nyupirnya disisi yg beda dari kita.
Secara culture, orang2 disana nggak begitu ramah, tapi helpful. So meraka nggak menyapa orang yang nggak dikenal (not like US and japan), tapi kalau kita nanya bakal dibantu sampai kelar walau merka harus bersusah payah. Bahasa mereka adalah bahasa slovak (perkawinan antara Rusia dan German). Bagusnya mereka pada jujur. Crime rate sangat rendah. Maling hampir nggak ada katanya. Temen gue (orang US) dompetnya ketinggalan beserta all cc, atm card, cash, etc di toilet di mal. 2 jam kemudian baru nyadar, terus kita buru2 kesana. Kita balik ke toilet yang penuh sesak itu. Dompet itu ada disamping wastafel (ninggalnya di toilet) dgn surat yg bilang, somebody left this here, please don’t take unless you are the owner. Dibuka, isi semua komplit. Gue bener2 heran karena toilet itu full, so dalam 2 jam it could be 100 people or so has been come and go.
In short, it is a small beautiful city, but not the place I choose to visit frequently not to live in….
Tanpa keluarga disisi, hari2 disana sepi… there is no place like home.